Showing posts with label ilmuan. Show all posts
Showing posts with label ilmuan. Show all posts

Ilmuwan Temukan Makhluk Aneh 'Kaktus Berjalan'


PARIS (Berita SuaraMedia) - Dugaan para ilmuwan bahwa artropoda atau hewan berbuku-buku berevolusi dari lobopodia atau sejenis cacing mulai menemukan titik terang. Penemuan fosil binatang aneh yang diberi nama "kaktus berjalan" diharapkan menjadi jawabannya.

Sebuah fosil makhluk serupa cacing berkaki 10 yang hidup 520 juta tahun lalu diduga sebagai mata rantai penghubung dalam sejarah evolusi serangga, laba-laba, dan krustasea.


Makhluk yang disebut kaktus berjalan itu termasuk kelompok hewan serupa cacing disebut lobopodia, yang diduga sebagai asal-usul artropoda. Temuan ilmuwan China ini diterbitkan di jurnal Nature



"Penemuan kaktus berjalan sangat penting karena sebelumnya kami belum menemukan fosil yang dapat dijadikan acuan dugaan kami," kata Jianni Liu, pemimpin tim peneliti yang melakukan studi terhadap fosil tersebut.


Sebelum penemuan kaktus berjalan, Diania cactiformis, semua anggota lobopodia memiliki tubuh dan tungkai yang lunak. Sementara hewan artropoda memiliki tubuh yang bersegmen (berbuku-buku) serta tungkai yang menyatu dan terlindungi cangkang keras.





Petunjuk evolusi artropoda hingga saat ini terdapat pada cacing beludru yang disebut-sebut sebagai satu-satunya keluarga terdekat bagi seluruh artropoda.


Setelah sebelumnya sempat diduga sebagai siput, hewan yang hidup di tanah ini hampir seluruh bagian tubuhnya lunak, kecuali cakar dan rahangnya.


Menurut Graham Budd, profesor paleobiologi di Uppsala University, Swedia, yang tidak terlibat dalam studi, penemuan kaktus berjalan akan mengisi sejarah evolusi di antara cacing beludru dan artropoda modern, yang dalam hal jumlah dan keragamannya merupakan kelompok hewan terbesar di bumi.


Namun, ia belum yakin kaki keras pada kaktus berjalan diwariskan langsung pada hewan artropoda modern.


"Sebagai contoh, bisa saja kaktus berjalan bukan relasi dekat artropoda modern dan kaki kerasnya telah berevolusi berkali-kali. Selain itu, mungkin juga tubuh artropoda primitif mengeras sebelum kakinya," kata Budd.



Oleh karena itu, Budd mengatakan masih ingin melihat bukti lebih lanjut pada materi-materi fosil yang akan datang. Fosil-fosil baru, terutama yang berasal dari China, telah membantu memperjelas sejarah evolusi artropoda. Selama lebih kurang satu dekade ini, para ilmuwan telah memiliki beberapa konsensus tentang sejarah itu. (ar/km/dt) www.suaramedia.com Selengkapnya...

Ilmuwan Kembangkan Tanaman 'Ajaib' Pendeteksi Bom


COLORADO (Berita SuaraMedia) - Para Ilmuwan di Colorado State University, Amerika Serikat, mengembangkan sebuah cara yang memungkinkan tanaman di sekeliling kita menjadi pendeteksi ancaman teror bom. Bagaimana caranya? Saat ini, Profesor June Medford beserta timnya tengah bekerja membuat tanaman hijau agar bisa berubah warna menjadi putih jika mendeteksi keberadaan senjata kimia atau biologi yang bisa meledak di sekitar mereka. 

Nah, ketika kita menemukan tanaman berubah jadi putih, ini berarti peringatan tanda bahaya akan terjadi ledakan bagi orang-orang di sekitar area itu.

Nantinya, tanaman pendeteksi bom itu akan ditempatkan di bandara udara maupun tempat keramaian lainnya.

Bayangkan, bila seseorang berjalan melewati tanaman tersebut di bandara udara dengan membawa bom secara tersembunyi, lalu warna tenaman berubah. Itulah saatnya pihak keamanan dipanggil.




"Kami memodifikasi benih tanaman. Sifat dan kemampuan ini akan stabil dan menempel pada tumbuhan selamanya. Dengan demikian, tanaman bisa diberdayakan untuk keamanan, memberitahu Anda akan adanya bahaya ledakan," papar Medford.

Memang terdengar seperti kisah fiksi ilmiah. Tapi Medford menyebutkan, menggunakan tanaman untuk mendeteksi patogen dan bahan kimia berbahaya sangatlah masuk akal.

Dia mencontohkan seperti halnya pisang berwarna hijau yang tidak akan matang pada iklim bumi bagian utara kecuali jika terpapar gas ethylene.

Nah, itu yang menginspirasi tim pimpinan Medford. Ia memodifikasi bibit tanaman agar bereaksi saat terkena gas kimiawi. Warna tanaman berubah dari hijau menjadi putih.

"Saya melakukan modifikasi pada tanaman agar bisa bereaksi saat terpapar zat tertentu dan berubah warna." kata Medford.

“Tanamannya bisa apa saja. Tak ada yang khusus,”

“Kelebihan tanaman adalah mereka tidak akan pernah takut atau lari bila ada ancaman bom.” tutupnya. (ar/tmp/dt/inl) www.suaramedia.com Selengkapnya...

Ilmuwan Temukan Air Tertua di Dunia


JOHANNESBURG (Berita SuaraMedia) - Para peneliti menemukan perairan dalam di bawah tanah yang telah terisolasi selama jutaan tahun di Witwatersrand Basin, Afrika Selatan. Luasnya diperkirakan mencapai seluas 400 kilometer.

Cekungan Witwatersrand menyimpan harta tak ternilai. Selain terkenal kaya emas dan uranium, tempat ini juga bersemayam Australopithecus sediba yaitu kandidat spesies peralihan antara hominin dan Homo. Dan sekarang, tim geolog internasional menemukan bukti biosfer mikroorganisme terdalam yang hidup nyaman di kerak Bumi dengan makan batuan.

Saat ditemukan, peneliti mendapati adanya gas neon larut di air yang berasal dari celah-celah berkedalaman hingga 3 kilometer dan tidak sesuai dengan profil gas neon biasa. Peneliti juga menemukan tingkat salinitas atau kadar garam yang tinggi dan beberapa tanda-tanda kimia unik.

Tanda-tanda tersebut sangat berbeda dengan zat cair ataupun gas yang muncul dari bawah kerak bumi lainnya.




“Tanda-tanda kimia tersebut tidak sesuai dengan air samudera atau air yang berada di tempat yang lebih tinggi di Witwatersrand Basin,” kata Barbara Sherwood Lollar, peneliti dari University of Toronto, seperti diberitakan Science20.

Lollar menyebutkan, perairan dalam ini merupakan produk dari isolasi dan interaksi kima yang ekstensif antara air dan batu dalam kurun waktu geologi yang sangat panjang.

“Tanda-tanda isotop neon jenis ini diproduksi dan terperangkap di dalam batu setidaknya selama 2 miliar tahun lalu. Saat ini kita masih bisa menemukannya di sana,” kata Lollar.

Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian dari neon tersebut menemukan jalan ke luar dari bebatuan dan secara bertahap membaur, berakumulasi dengan cairan lain di celah-celah. “Ini hanya bisa terjadi di perairan yang terpisah dengan permukaan selama periode waktu yang sangat lama,” ucapnya.

Temuan ini belum termasuk dimensi lain dari apa yang baru-baru ini telah diakui sebagai lingkungan yang benar-benar unik. Salah satu sistem fraktur berisi ekosistem mikroba terdalam yang telah diketahui di Bumi. Ini adalah organisme yang berkembang dengan susah payah eksis secara independen dari sinar Matahari dan hidup dengan energi kimia yang berasal dari batu.

“Komunitas mikrobial ini memperluas konsep kami seputar bagian mana yang bisa ditinggali oleh makhluk hidup di Bumi,” kata Lollar. “Mengingat mereka punya kesamaan dengan organisme yang ditemukan di bagian lain di Bumi, kami berasumsi bahwa mikroorganisme tersebut bukanlah berasal dari nenek moyang yang berbeda, namun dulu mereka datang dari tempat lain untuk tinggal di bebatuan tersebut,” ucapnya.

Yang pasti, kata Lollar, lamanya periode isolasi telah mempengaruhi evolusi mereka. "Jelas periode panjang isolasi yang membawa dampak evolusi pada mereka. Ini adalah salah satu wilayah dimana kita berharap dapat mengeksplorasi dengan penelitian lebih lanjut bersama para rekan mikrobiolog kita"ucapnya.(ar/vs/kl) www.suaramedia.com


Selengkapnya...